Breaking News
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 November 2014

Jejak Perjuangan K.H. AHMAD DAHLAN Dalam Ruang Kauman Yogyakarta



GIMANTIR - Muhammadiyah tak dapat dijauhkan dari Kampung Kauman Yogyakarta, begitu pula sebaliknya. Paling tidak karena dua sebab musabab. Pertama, menurut salah satu riwayat disebutkan sang pendiri Muhammadiyah; K.H. Ahmad Dahlan, adalah putra kelahiran Kampung Kauman Yogyakarta. Sedangkan riwayat lain menyebutkan Kiai lahir di Nitikan dan barulah beberapa hari setelah kelahirannya dibawa ke Kauman. Kedua, ikrar berdirinya Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah dan sosial pendidikan berasaskan Islam terjadi di Kampung Kauman Yogyakarta. Karenanya antara Muhammadiyah dengan Kampung Kauman Yogyakarta memiliki ikatan historis, basis sosial, dan emosional yang tak mungkin dapat dipisahkan.
K Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta

Mempelajari perjuangan Islam di Nusantara akan kita temui Muhammadiyah. Mempelajari Muhammadiyah tepatnya dimulai dengan mempelajari kehidupan dan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan. Untuk memulai usaha mengenali sosok Kiai tepatnya diawali dari ruang-ruang Kauman; tempat di mana Kiai tumbuh besar, memulai perjuangan, dan kembali kehadirat Rabb-nya pada hari Jumat tanggal 7 Rajab 1341 Hijrah Nabi/23 Februari 1923. Walaupun kemudian jasad Kiai tidak dimakamkan di Kauman, namun jejak dan semangat perjuangannya masih membekas dalam ruang-ruang yang pernah merekam.
Pada hari ahad tanggal 4 Safar 1435 Hijrah Nabi/8 Desember 2013, kira-kira 90 tahun dalam perhitungan penanggalan masehi setelah wafatnya Kiai atau 94 tahun dalam perhitungan penanggalan hijriyah, penulis bersama 11 rekan berkunjung ke Kampung Kauman Yogyakarta untuk napak tilas jejak perjuangan K.H. Ahmad Dahlan guna mengambil ibrah dan meneladani kisah hidup dan perjuangan salah seorang ulama yang hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk menegakkan Islam di bumi Hindia Timur pada masanya. Ditemani mas Ghifari dan mas Priyo dari Komunitas Blusukan Kampoeng Jogja, kami menelusuri dan memasuki satu persatu ruang yang menjadi saksi bisu perjuangan K.H Ahmad Dahlan. Ruang yang telah menua oleh sebab waktu, namun tak dapat menghapus kenangannya.

Peta 300x177 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Rute napak tilas jejak perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dalam ruang Kauman
Penelusuran kami dimulai dari Masjid Gedhe yang pembangunannya selesai pada hari ahad 29 Mei 1773. Masjid yang menjadi saksi bisu gerakan tajdid K.H. Ahmad Dahlan yang terlahir dengan nama Muhammad Darwis. Selepas wafat ayahnya; K.H. Abu Bakar pada tahun 1896, beliau diangkat oleh Kasultanan Yogyakarta sebagai salah seorang khetib di Masjid Gedhe untuk menggantikan peran sang ayah dengan menyandang gelar Khetib Amin.
Di serambi masjid inilah setiap Kiai bertugas piket sehari dalam seminggu berusaha menyampaikan ilmu kepada khalayak, termasuk perihal arah kiblat yang shahih ke arah barat laut. Pada masanya lumrah masjid dan langgar memiliki kiblat ke arah Barat. Sebagai seorang alim yang memiliki otoritas di bidang ilmu falak, wajib baginya menyampaikan kebenaran perkara arah kiblat walaupun tak serta merta diterima dengan mudah. Akhirnya atas pertolongan Allah Azza Wa Jalla, dakwah Kiai berbuah manis hingga saat ini kita dapati arah kiblat Masjid Gedhe yang menyerong.
Di pelataran masjid ini pula Kiai pernah membariskan kepanduan Hizbhul Wathan; padvinder Muhammadiyah bagi kalangan muda yang didirikannya pada tahun 1921. Bayangkan saja di pelataran luas yang dahulunya ditutupi tanah, seorang K.H. Ahmad Dahlan memimpin apel barisan pemuda yang dicita-citakannya mampu menjadi pemuda yang Islami dan kelak tergerak hatinya untuk berjuang atas nama Islam.
Penelusuran kami berlanjut ke ruang Kawedanan Pengulon yang berada di sebelah utara Masjid Gedhe. Kawedanan Pengulon adalah badan keagamaan Kasultanan Yogyakarta yang dipimpin seorang Kiai Penghulu yang memiliki tanggung jawab urusan keagamaan dalam wilayah kekuasaan sultan yang mencakup peribadatan, perawatan masjid dan makam kerajaan, upacara keagamaan kerajaan, dan peradilan kerajaan dalam lingkup peradilan syariat Islam.
Gambar Kawedanan Pengulon 1 300x200 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Gambar Kawedanan Pengulon 2 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Kawedanan Pengulon sebagai penanda otoritas sultan dalam bidang keagamaan
Dahulu Kiai Penghulu dalam kesehariannya bermukim di ndalem Pengulon dan berkantor di pendopo Pengulon. Strata ruangnya ditunjukkan dari ketinggian atap pendoponya yang tertinggi kedua di lingkungan Kauman setelah atap Masjid Gedhe. Di ruang Kawedanan Pengulon inilah terjadinya peristiwa perseteruan antara Kiai Penghulu Kamaludiningrat dengan K.H. Ahmad Dahlan menyoal perubahan arah kiblat Masjid Gedhe. Gagasan paharuan ditolak Kiai Penghulu disebabkan kedudukannya yang membawahi K.H. Ahmad Dahlan selaku abdi dalem pamenthakan berpangkat khetib. Perseteruan antara keduanya mencapai klimaks dengan dirobohkannya Langgar Kidoel milik keluarga K.H. Ahmad Dahlan.
Memasuki sebuah pintu di sebelah utara Masjid Gedhe kami menjumpai ruang Kauman RT 12. Berjalan beberapa langkah, tepat di samping kiri pertigaan jalan terlihat sebuah monumen Syuhada fii Sabilillah Kauman Darussalam. Terukir nama 24 orang mujahid warga Kauman di badan monumen yang insya Allah ikhlas mengorbankan jiwa untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Demi Islam, demi umat, demi keridhaan Allah. Semoga hanya karena Allah pula kami menelusuri ruang-ruang Kauman untuk mengambil ibrah dari perjuanganmu, wahai mujahid dakwah.
Gambar Permukiman 1 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Suasana permukiman Kampung Kauman Yogyakarta
Gambar Monumen 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Monumen untuk mengenang para Mujahid warga Kauman yang diresmikan pada 23 Rabiul Awal 1416 Hijrah Nabi/20 Agustus 1995
Setelah merenung sejenak, langkah kaki kami kembali berderap ke arah barat menyusuri jalan paving yang basah lembab oleh hujan. Selang beberapa meter di sebelah kiri jalan kami menjumpai Gedung TK ABA (Taman Kanak-Kanak ‘Aisyiyah Bustanul Athfal) yang telah berdiri sejak tahun 1922 dengan nama Siswo Projo Wanito. Barulah pada tahun 1924 menggunakan nama Bustanul Anthfal yang berarti kebun anak-anak. Belanda menyebutnya dengan Frobel. Dengan kata lain inilah pendidikan Taman Kanak-Kanak pertama di Hindia Timur pada masanya yang kemudian menjadi embrio pendidikan serupa di Indonesia.
Gambar TK ABA 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal yang dahulunya difungsikan oleh Kiai dan Nyai Dahlan untuk memberikan pengajaran Islam
Jauh sebelumnya, ruang-ruang dalam gedung ini difungsikan untuk pengajian Nyai Dahlan bagi perkumpulan Sopo Tresno yang dibentuknya pada tahun 1914. Berawal dari keinginan Nyai untuk mencerdaskan dan mengangkat harga diri kaum wanita. Begitu pula K.H. Ahmad Dahlan mengisi ruangnya setiap malam selasa untuk mengajarkan Islam, mendidik umat. Tak disangka Jenderal Besar Soedirman pun menjadi salah satu penyambung seruan dakwah Kiai di ruang yang sama, jauh setelah wafatnya Kiai, selain untuk bertemu dengan Nyai Dahlan; meminta doa restu kepada ‘sang ibu’. Ruang yang kini kami berdiri di depannya menyimpan rekam jejak dakwah 3 tokoh Islam di masanya yang hingga detik ini masih kita lihat dan rasakan hasil dari kerja dakwah mereka.
Kami melangkah kembali hingga tiba di perempatan jalan. Tepat di sebelah kanan kami berdiri Mushola ‘Aisyiyah yang diresmikan pendiriannya oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1922. Ruang sholat khusus bagi kaum wanita yang diimami oleh seorang wanita. Bayangkan pada masanya kaum wanita diharuskan berdiam diri di rumah. Urusannya hanya seputar dapur, sumur, dan kasur. Kemudian terbit dakwah pembaharuan di Kauman yang memancarkan cahaya-Nya, memuliakan wanita di atas jalan Islam. Mulailah wanita mendapatkan kehormatan, kebebasan sebagai hamba Allah, dan perlindungan di balik Islam. Mulailah wanita mendapatkan ruang untuk mencurahkan ketaatannya kepada Sang Pencipta, dan ruang Musholah ‘Aisyiyah menjadi saksi.
Gambar Mushola 1 300x200 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Gambar Mushola 2 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Mushola ‘Aisyiyah yang menjadi penanda kebangkitan keagamaan bagi kalangan wanita
Hadirnya Mushola ‘Aisyiyah menandakan pengakuan atas hak dan kewajiban seorang wanita sebagai hamba Allah sekaligus khalifah Allah. Urusan wanita memang di rumah tapi bukan berarti diperbolehkan untuk bodoh, untuk tidak beribadah, apalagi untuk diperlakukan bukan sebagai manusia. Karenanya ruang mushola hadir untuk mengasah keimanan kaum wanita di tengah dominasi kaum pria yang menguasai ruang-ruang Masjid Gedhe. Tak aneh bagi kami ketika adzan dzuhur berkumandang dari Masjid Gedhe satu persatu warga wanita memasuki ruang mushola, tapi entah bagaimana tanggapan masyarakat luas dengan realitas seperti ini pada masa 100 tahun yang lalu.
Kami mempercepat langkah seiring waktu memasuki dzuhur tuk menghampiri ruang Pendopo Tabligh yang lokasinya tak seberapa jauh dari Mushola ‘Aisyiyah dengan menyusuri gang-gang sempit di antara rumah-rumah warga diiringi tetesan hujan yang tak ingin menjadi deras.
Gambar Permukiman 2 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Gambar Gang 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Sempitnya sirkulasi di Kampung Kauman Yogyakarta menunjukkan sikap keterbukaan dan keakraban warganya
Pendopo Tabligh adalah salah satu dari dua buah pendopo yang masih bertahan di Kampung Kauman Yogyakarta. Salah lainnya adalah Pendopo Pengulon yang telah kami kunjungi di awal. Tak banyak yang mengetahui di ruang Pendopo Tabligh inilah yang pada masanya dimiliki salah seorang murid K.H. Ahmad Dahlan dilangsungkan ikrar berdirinya Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330 Hijrah Nabi/18 November 1912. Diawali dari saran seorang murid agar Kiai mendirikan organisasi untuk menaungi sekolah yang telah dirintisnya pada tahun 1911. Takut-takut kalau Kiai meninggal, sekolah tetap berdiri dan dilanjutkan perjuangannya oleh generasi penerus. Maka seiring tumbuhnya dukungan dan setelah menunaikan istikharah, pada waktunya berdirilah Muhammadiyah dari sebuah ruang kecil dan sederhana yang dipenuhi limpahan rahmat Allah Azza wa Jalla.
Gambar Pendopo Tabligh 1 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Gambar Pendopo Tabligh 2 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Pendopo Tabligh; ruang lahirnya bayi Muhammadiyah
Kaki kami kembali melangkah. Kali ini menuju Langgar K.H. Ahmad Dahlan yang pada masanya disebut Langgar Kidoel. Di tengah perjalanan kami melihat sebuah rumah bertuliskan Perpustakaan MABULIR di atas daun pintunya. Pemiliknya pernah ikut serta berperang bersama Jenderal Besar Soedirman; H. Dauzan Farook. Setelah tidak lagi berperang ia tetap meneruskan perjuangan. Kali ini tidak dengan senjata, tapi dengan buku untuk melenyapkan kebodohan dalam diri umat. Dahulu setiap hari ia berkeliling dengan sepeda untuk menawarkan buku koleksinya agar dapat dipinjam masyarakat. Tiada biaya yang dipungut, si peminjam hanya harus mengajak 5 orang kawannya untuk turut meminjam buku. Tak disangsikan lagi Perpustakaan MABULIR adalah cikal bakal perpustakaan keliling di Indonesia. Namun kini bangunannya sepi tanpa pertanda adanya penghuni, sepi tanpa aktivitas yang menggerakkan ruangnya.
Gambar Perpustakaan Mabulir 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Keberadaan perpustakaan MABULIR semakin menguatkan citra Kampung Kauman sebagai kampung pendidikan Islam
Kembali melanjutkan perjalanan, kembali melewati gang-gang sempit di antara rumah warga, tibalah kami di lingkungan rumah K.H. Ahmad Dahlan. Kami berdiri di halaman tanah di kelilingi bangunan. Di sebelah barat adalah Langgar Kidoel, langgar milik keluarga K.H. Ahmad Dahlan. Di dalam ruangnya pada tahun 1898 berkumpul 17 ulama untuk menggelar musyawarah perihal arah kiblat yang shahih. Diskusi yang dilangsungkan dari isya hingga shubuh tak menunai hasil. Namun dua orang murid Kiai yang mendengar perbincangan secara diam-diam menuju Masjid Gedhe di tengah malam tuk menggoreskan garis putih di depan pengimaman sebagai penunjuk arah kiblat yang diyakini shahih oleh Kiai. Inilah awal mula perseteruan antara K.H. Ahmad Dahlan dengan Kiai Penghulu Kamaludiningrat yang berakhir pada perintah perobohan Langgar Kidoel.
Gambar Rumah Kiai 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Lingkungan kediaman K.H. Ahmad Dahlan; ruang bagi Kiai tumbuh dan memulai pergerakan dakwahnya
Besarnya tantangan dan tekanan dakwah yang dihadapi Kiai meremukkan hatinya ketika melihat langgar warisan sang ayah rata dengan tanah. Seketika Kiai mengajak istri untuk hijrah namun sanak saudara tak ridha atas kepergiannya. Berkat petunjuk Allah Azza wa Jalla, Kiai mengurungkan niatnya untuk pergi dan membangun kembali langgar warisan sang ayah pada tahun 1901 dengan tetap menerapkan arah kiblat sebagaimana yang diyakininya. Semangat dakwah pun kembali membuncah.
Di masa kini kita dapat menjumpai Langgar K.H. Ahmad Dahlan dengan kondisinya yang baru dipugar. Di pengimaman terdapat sebuah penanda, entah dibuat oleh Kiai atau setelahnya, yang menunjukkan perhitungan arah kiblat. Kini hampir setiap hari ruang langgar difungsikan untuk pengajian dan pengajaran setelah beberapa masa kosong tanpa kegiatan. Ruang bawah langgar pun beralih fungsi menjadi kantor yayasan dan museum K.H. Ahmad Dahlan. Sebuah upaya untuk mulai memperkenalkan kembali sosok seorang ulama besar kepada generasi masa kini.
Gambar Luar Langgar 1 300x200 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Gambar Luar Langgar 2 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Gambar Dalam Langgar 1 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Gambar Dalam Langgar 2 300x200 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Langgar milik keluarga K.H. Ahmad Dahlan yang menyimpan jejak pergerakan tajdid Kiai
Gambar Penanda Kiblat 300x227 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Penanda arah kiblat; terlihat tiga buah garis lurus yang saling berpotongan
Di sebelah utara halaman tanah adalah kediaman K.H. Ahmad Dahlan yang kini tersekat menjadi 3 ruang hunian terpisah. Di ruang tamu kediaman Kiai yang tidak kurang berukuran 2,5×6 meter pertama kali diselenggarakan lembaga pendidikan Islam yang dirintisnya. Berawal dengan 8 orang murid, 2 buah meja, 2 buah bangku panjang, dan sebuah papan tulis. Modal untuk mewujudkan modernisasi pendidikan Islam pada masanya. Di tengah gencarnya tantangan dakwah yang dihadapi, 6 bulan setelah dimulainya bertambah menjadi 20 orang murid dan terus bertambah seiring waktu sehingga ruang belajar dipindahkan ke serambi rumah Kiai; ruang yang lebih luas.
Gambar Rumah Kiai 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Rumah kediaman K.H. Ahmad Dahlan; ruang lahirnya lembaga pendidikan yang digagasnya
Pada 1 Desember 1911, Kiai memutuskan mendirikan sekolah yang diberi nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Awal dibukanya memiliki 29 orang murid, dan 6 bulan kemudian melonjak menjadi 62 orang murid. Untuk mewadahi murid yang terus bertambah jumlahnya, pada tahun 1913 Kiai mendirikan ruang kelas di sebelah timur halaman tanah tempat kami berdiri. Barulah pada tahun 1919 ruang kelas dipindahkan ke sebelah selatan Masjid Gedhe di atas tanah hibah dari sultan yang kemudian dinamakan Sekolah Dasar Pawiyatan. Dan kini ruang kelas di lingkungan kediaman Kiai difungsikan untuk kegiatan PAUD. Tiada kosong dari aktivitas pengajaran sebagaimana impian sang pendiri.
Gambar Kelas 1 300x200 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Gambar Kelas 2 300x200 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Gambar Kelas 3 300x200 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Ruang kelas di lingkungan kediaman K.H. Ahmad Dahlan; bandingkan gambar atas yang diambil pada masa kini dengan dua gambar di bawahnya yang diambil pada tahun 1913
Setelah shalat dzuhur berjama’ah yang dilanjutkan dengan diskusi dan mengunjungi museum K.H. Ahmad Dahlan, kami beranjak menuju Sekolah Dasar Pawiyatan. Tak terasa penelusuran jejak perjuangan K.H. Ahmad Dahlan telah memasuki bagian akhirnya. Beberapa langkah sebelum Sekolah Dasar Pawiyatan, di kiri jalan tepat di sebelah barat Masjid Gedhe terdapat pemakaman Kauman. Di sinilah Nyai Dahlan di makamkan yang wafat pada tanggal 29 Jumadil Akhir 1365 Hijrah Nabi/31 Mei 1946. Di tanah ini pula dimakamkan para pejuang Islam yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan jiwanya. Tertulis di batu nisan yang sederhana sebuah nama Abu Bakar Ali, Moch Wardani, dan Moch Djirhas.
Gambar Makam Nyai 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Gambar Makam Pejuang Islam 184x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Makam Nyai dan para pejuang Islam sebagai bukti militansi warga Kauman memperjuangkan Islam dan kemerdekaan Indonesia
Makam yang kesehariannya tertutup rapat. Rantai besi dan gembok berukuran besar menjadikan pintunya tak dapat dibuka. Makam pun dibuat rendah, tak lebih dari sejengkal tangan, hanya nisan sebagai petunjuk identitas. Tak lain sebagai upaya mencegah munculnya praktik kesyirikan.
Menziarahi makam Nyai Dahlan tanpa makam Kiai. Nisan bertuliskan Achmad Dahlan di belakang makam Nyai adalah makam cucu Kiai dan Nyai, sedangkan K.H. Ahmad Dahlan dimakamkan di Karang Kajen. Beredar beberapa riwayat berpisahkan makam Kiai dan Nyai, pasangan yang saling bahu membahu memperjuangkan kaum Muslimin hingga wafatnya. Sebuah riwayat mengatakan masyarakat Karang Kajen merupakan basis pendukung Muhammadiyah pada masa awal berdirinya di tengah berbagai rintangan yang dihadapi Kiai di dalam lingkungan Kauman. Keberadaan makam Kiai di Karang Kajen menjadi bukti. Dikuatkan riwayat yang meyakini Kiai bukanlah asli kelahiran Kauman, sedangkan Nyai yang dimakamkan di Kauman menjadi petunjuk tanah kelahirannya.
Gambar Makam Anak Nyai 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Makam Achmad Dahlan; cucu Kiai dan Nyai
Beberapa langkah dari pemakaman Kauman kami telah berada di depan pagar SD Muhammadiyah Kauman. Sekolah inilah yang dahulunya disebut dengan Sekolah Dasar Pawiyatan yang diperuntukkan bagi putri. Sekolah yang cikal bakalnya tumbuh di lingkungan hunian K.H. Ahmad Dahlan tak lagi menampakkan wujud aslinya yang telah berlalu terbawa arus renovasi terakhir kali. Patut diambil hikmah begitu cepatnya sekolah Muhammadiyah tumbuh. Berawal dari ruang tamu di dalam sebuah rumah yang sederhana, kini kita dapati bangunan 2 lantainya yang terlihat gagah perkasa. Semoga senantiasa segagah dan seperkasa niat Muhammadiyah untuk terus memajukan kehidupan kaum Muslimin dan menegakkan Islam di tanah Indonesia, namun tanpa menghapus kesejarahannya.
Gambar SD Pawiyatan 1 300x200 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
Gambar Kawedanan Pengulon 1 300x200 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman YogyakartaGambar SD Pawiyatan 2 199x300 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta
SD Muhammadiyah Kauman yang wujud fisiknya tak lagi menampakkan bekas-bekas SD Pawiyatan peninggalan Kiai
Penelusuran jejak perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dalam ruang-ruang Kauman kami akhiri dengan kembali ke Masjid Gedhe melalui setapak jalan di sebelah selatan masjid, hanya beberapa langkah dari Sekolah Dasar Pawiyatan. Berawal di masjid dan berakhir di masjid. Kiranya begitulah umat Islam yang tumbuh di masjid dan kelak akan dishalatkan di masjid sebelum menuju liang lahatnya. Tapi tidak berarti perjuangan berakhir di masjid, justru perjuangan akan terus bergulir dari masjid.
Jejak-jejak perjuangan K.H. Ahmad Dahlan yang kami dapati dalam ruang Kauman Yogyakarta menjadikan antara keduanya tak terpisahkan. Wafatnya Kiai tak berarti turut menghilangkan rekam jejak hidup dan pemikirannya yang setelah sekian puluh tahun tetap terperangkap dalam ruang-ruang Kauman. Ruang-ruang yang senantiasa menyimpan ingatannya untuk generasi penerus. Bukan hanya untuk generasi penerus Muhammadiyah, bukan hanya untuk kami, tapi untuk generasi kita. Untuk seluruh umat Islam di Dunia. Kita memang tak berkesempatan bertemu Kiai, tapi dalam ruangnya kita dapat menyerap semangat dakwah dan pelajaran darinya. Tentu, kalau saja kita berkeinginan untuk itu.
Akhir kata, hidup-hidupilah Muhammadiyah. Jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah.
Wallahu a’lam bishawab.
Gambar Bersama 300x200 Jejak Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam Ruang Kauman Yogyakarta





Oleh: Andika Saputra, Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa, Mahasiswa S2 Arsitektur UGM

Read more ...

Senin, 03 November 2014

"Al-Farghani" Astronom Penentu Ukuran Planet

Patung al-Farghani.
Patung Al-farghani

Ia adalah salah satu astronom terkemuka saat pemerintahan Khalifah al-Ma'mun dan penerusnya.
Astronomi adalah bagian penting bagi kehidupan Muslim. Ada kebutuhan praktis mempelajari astronomi untuk mengetahui waktu shalat sepanjang tahun. Penentuannya berdasarkan posisi Matahari.

Kajian dalam astronomi membuat Muslim mengetahui arah Ka'bah secara geografis yang bisa diketahui berdasarkan posisi Matahari dan Bulan. Kalender umat Muslim adalah kalender lunar yang dibuat dengan melihat fase dan posisi Bulan. Hal ini sangat penting terutama saat bulan suci Ramadan.

Salah satu ahli astronomi Muslim yang pemikirannya bertahan selama berabad-abad adalah Abu al-Abbas Ahmad bin Muhammad bin Kathir al-Farghani. Ia lahir di Farghana, Transoxiana, Uzbekistan dan meninggal di Mesir pada 833 M.

Ia adalah salah satu astronom terkemuka saat pemerintahan al-Ma'mun dan penerusnya. Alfraganus adalah nama populernya di dunia Barat.
Al-Farghani adalah salah satu ilmuwan Pleiad yang menjadi anggota Akademi Kebijaksanaan (House of Wisdom) yang didirikan Khalifah al-Ma'mun pada abad ke-9. Dewan Kebijaksanaan  juga dikenal pada waktu itu sebagai Akademi al-Ma'mun.

Pusat ilmu pengetahuan ini menjadi yang pertama di Mery, kemudian di Baghdad. Al-Ma'mun mengundang ilmuwan dari Khoresm, Sogdiana, Shash, Farab, dan Khurasan untuk melakukan pekerjaan ilmiah.

Ada dua observatorium yang dilengkapi dengan peralatan paling modern pada saat itu. Di sanalah astronom dari Akademi al-Ma'mun menghitung lingkar Bumi, panjang derajat meridian Bumi, menyelidiki bintang-bintang, menyusun zibjes (tabel), dan menulis laporan ilmiah.

Al-Farghani menulis Kitab fi al-Harakat al-Samawiya wa Jawami Ilm al-Nujum (Elemen Astronomi) antara 833 M dan 857 M. Kitab tersebut adalah buku tentang gerak benda langit dan ilmu menyeluruh bintang-bintang. 

Terdapat 30 bab di dalamnya, termasuk yang menjelaskan mengenai bagian bumi yang dihuni manusia, ukurannya, jarak benda-benda langit dari bumi, ukurannya dan fenomena lain. Penjelasan mengenai perbedaan kalender Mesir, Yunani, Roma, Rusia, dan Arab juga tercantum di dalamnya.

Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12 dan memberikan pengaruh besar astronomi Eropa sebelum Regiomontanus. Regiomontanus adalah astronom dari Jerman  (6 Juni 1436 - 6 Juli 1476 M).

Ia menyetujui teori Ptolemy dan nilai presesi. Menurutnya, dua hal itu memengaruhi tidak hanya bintang tetapi juga planet. Dialah orang yang menentukan bumi memiliki diameter 6.500 mil atau sekitar 1.500 kilometer. Dia juga yang menemukan jarak terbesar dan diameter planet.





Read more ...

Senin, 20 Oktober 2014

Manusia Terbang

Gimantir - Sepanjang sejarah, manusia sangat tertarik dengan terbang. Salah satu contohnya adalah mitos Yunani kuno tentang Icarus dan Daedalus melarikan diri dari labirin yang berada dipulau Crete dengan tangan bersayap.
Bahkan dalam dunia modern dimana orang biasa terbang menggunakan jet dan kapal luar angkasa, kita tak pernah menghilangkan mimpi kita untuk dapat terbang. Kemampuan terbang seorang manusia tidak terbatas hanya di mitologi saja. Hal itu terjadi dalam kehidupan manusia sejak jaman dulu kala, walaupun hanya berbentuk dongeng atau legenda yang kita dengar secara turun temurun. Di seluruh dunia, sejak jaman dahulu kala sampai sekarang, kita sering menemukan cerita tentang orang yang benar-benar dapat terbang. Cerita paling tua dan paling detail gambarannya datang dari tadisi Vedic kuno, dimana melayang-layang dan terbang merupakan salah satu keahlian yang dapat dikembangkan oleh para manusia.
Sementara itu di Eropa, levitation (terbang/mengambang) dimiliki oleh 200 orang suci, dan ini biasa disebut sebagai keajaiban dalam tradisi Katolik Romawi.
Salah satu contoh terbaik adalah St. Joseph dari Copertino, orang suci dari Italia di abad 17. Lebih dari seratus penerbangan (tanpa pesawat tentunya) tercatat secara resmi selama hidupnya. Sebagai gambaran , bagaikan suara yang merdu, dia akan terbang tinggi ke udara, mengitari langit-langit gereja dan melayang di udara, kadang-kadang selama lima belas menit, kadang-kadang selama dua jam, dan banyak orang yang menyaksikan hal itu. Saat ini St. Joseph dari Copertino adalah salah satu orang yang dapat terbang di udara.
Pada abad pertama, ahli filosofi Yunani, Saint Apollonius dari Tyana pergi ke India, disana dia melaporkan bahwa dia melihat para Brahmins (pendeta) “Mereka mengambang sampai hampir satu meter diatas tanah.” Sebagian besar para ahli sejarah mengatakan bahwa ceritanya itu murni sebuah fantasi. Tetapi Ernest Wood, seorang penulis Inggris yang menuliskan filosofi Ketimuran, melaporkan hal yang sama saat dia pergi ke India dan ini hanya beberapa dekade yang lalu. “Saya ingat pada suatu kesempatan ketika seorang yogi (ahli yoga) tua sedang melayang di udara dalam postur tubuh terlentang sekitar 1.8 meter di udara terbuka, sekitar setengah jam, sementara para pendatang dipersilahkan untuk melewatkan gagang pada jarak antara tanah dan orang tersebut…Mengambang atau menaikan tubuh dari atas tanah dan melayang beberapa kaki di udara diatas tempat duduk atau sofa adalah…suatu fakta yang secara universal sudah diterima di India.”
Apakah Yoga Terbang itu mungkin? Bagaimana seorang manusia dapat melayang atau terbang di udara menentang hukum gravitasi? Yoga Terbang atau yang biasa disebut yogic flying melihat semua potensi manusia dalam pandangan yang baru, memperluas pemikiran tentang apa yang dapat dicapai oleh seorang manusia, melihat dengan gaya baru tentang hubungan antara pikiran manusia dan alam semesta.
Dalam beberapa tahun terakhir, quantum fisika telah mengidentifikasikan bagian yang paling fundamental atau dasar dari rahasia alam, semua bagian dari hukum alam dimana semua hukum alam termasuk kekuatan gravitasi, dibahas. Hukum alam ini menjelaskan semua bentuk dan segala fenomena yang terjadi di alam semesta, termasuk pikiran dan tubuh manusia.
Pengertian tentang Vedic kuno yang dibawa oleh Maharishi telah membawa pencerahan dan lebih, dengan mengidentifikasikan bagian yang universal ini sebagai bagian dari kesadaran murni tak terbatas. Sejak kesadaran manusia memiliki dasar dan sumber dari hukum alam yang paling dasar ini adalah pikiran manusia dapat membuka pada semua level dari alam dan dari situlah semua dapat berfungsi. Dengan berfungsi dari level yang paling dasar, kita dapat memerintahkan secara total potensi alam pada diri kita. Kita dapat meraih pengetahuan untuk mengetahui semua hal, melakukan semua hal dan menyelesaikan semua hal. Semua tidak ada yang mustahil. Potensi kita tidak terbatas.
Teknik Meditasi Transcendental membuat kita membuka pikiran kita untuk tenang dan merasakan kesadaran murni, semua hukum alam, dalam kesadaran kita sendiri. Yogic Flying adalah sebagian kecil dari program tersebut, membiarkan pikiran kita untuk berpikir dan bereaksi pada hukum alam yang paling dasar tersebut.
Karena itu Yogic Flying tidak menentang hukum gravitasi atau hukum alam manapun. Hal itu memperbolehkan kita untuk mengakses dan menghidupkan potensi total dari hukum alam yang hidup dalam diri kita, membuka simpanan energi dan kecerdasan kita untuk segala kemungkinan dan menyelesaikan kegiatan hidup kita sehari-hari.
Diseluruh dunia, manusia yang dapat terbang secara bervariasi dikatakan telah berevolusi secara spiritual dalam kehidupan sosial mereka. Di Eropa mereka disebut saints; di India disebut yogis; di Asia tenggara disebut arahants; di Aborigin Australia disebut “clever men” atau doctors. Banyak orang diceritakan dalam fabel, dongeng, legenda atau mitos. Memberikan asumsi universal bahwa terbang itu sesuatu yang tidak mungkin, tetapi kita harus yakin dengan kemampuan manusia, apa saja menjadi mungkin.







Sumber
Read more ...

Sabtu, 18 Oktober 2014

Bocah "Hacker Ajaib" Bobol Website Milik Sekolahnya Untuk jawab PR

Bocah Hacker Ajaib Bobol Website Sekolah untuk Jawab PRWang Zhengyang (Daily Mail)
Bocah berusia 13 tahun ini menjadi sorotan masyarakat karena kelihaiannya membobol sistem keamanan komputer. Sehingga dia dijuluki 'hacker ajaib' China.
Dream - Wang Zhengyang. Dialah bocah yang tengah menjadi buah bibir di China. Bocah berusia 13 tahun ini menjadi sorotan masyarakat karena kelihaiannya membobol sistem keamanan komputer. Sehingga dia dijuluki 'hacker ajaib' China.
Sebagaimana dikutip Dream dari laman Shanghaiist, Kamis 9 Oktober 2014, karena kemahirannya, Zhengyang telah menjadi pembicara pada the 2014 Chinese Internet Security Conference di Beijing. Dia juga sudah melakukan kerja sama dengan Tsinghua University.
Namun, di tengah reputasi yang menanjak, tudingan miring tertuju pada bocah ini. Zhengyang dituduh telah menggunakan kemahirannya untuk melakukan kejahatan. Dia dituduh telah membobol sistim komputer sekolahnya untuk mencuri kunci jawaban pekerjaan rumah. Selain itu, dia juga dituding membobol sistim komputer milik toko penjual mainan.
Tapi semua dibantah oleh Zhengyang. Dia mengatakan upaya pembobolan itu bukan untuk kejahatan. "Anda pertama kali harus menyerang website untuk menemukan kelemahannya," kata Zhengyang sambil menjelaskan bahwa dia membobol sistim komputer sekolahnya bukan untuk mendapatkan kunci jawaban atas PR di kelasnya, melainkan untuk siswa SMA yang satu sekolah dengannya.
Dia juga menolak telah berniat jahat dengan membobol situs milik toko online penjual mainan dan mengubah harga dari 2.500 yuan menjadi 1 yuan. Dia mengaku hanya memberi tahu toko online itu akan kelemahan sistim pada website mereka. Zhengyang mengaku tak melakukan pembelian saat membobol website itu.
Pada bulan April lalu, Zhengyang memperingatkan sebuah perusahaan perangkat lunak yang berbasis di Beijing, Qihoo 360, tentang kerusakan sistim yang dapat mempengaruhi lebih dari 100 institusi pendidikan di negara Tirai Bambu ini.
"Saya pikir orang-orang pembobolan sistim sepanjang hari untuk keuntungan yang tidak bermoral," kata Zhengyang.
"Sangat menarik untuk mencari risiko keamanan situs web dan saya sangat gembira ketika saya menemukan satu. Tapi saya tidak akan menggunakan bakat saya untuk sesuatu yang ilegal," tambah dia.
Read more ...

Selasa, 14 Oktober 2014

Siapakah Laki-Laki Itu



GIMANTIR ;
Apa kabarmu disana nak?

Dikota yang berjarak dua jam perjalanan dari sini, apa kau masih mengingat orang tua renta ini? Yang setiap saat tak henti mendoakan segala yang terbaik untukmu.

Ah.. ayah ingat ketika siang itu, sebelum berangkat kekota, dengan wajah malu-malu kau bercerita tentang niat seorang laki-laki untuk meminangmu. Kau tahu nak sudah lama ayah bersiap untuk menanti kabar ini, kabar tentang seorang yang akan membawamu pergi jauh dari ayah. Kabar tentang laki-laki yang meminta pengalihan tanggung jawab dari ayah.. sungguh sudah lama ayah mempersiapkan diri. Tapi tetap saja siang itu ayah terkejut, meski mungkin tidak begitu terlihat diwajah ayah.

Siapa dia nak? Siapa laki-laki yang berani memintamu dari ayah? Bawa dia kesini... biar ayah lihat dulu, seberapa mampu dia meyakinkan ayah bahwa dia akan memperlakukan dan menjagamu tidak kurang dari ayah. Bawa dia kesini nak... biar ayah nilai dulu, seberapa tulus dia menyayangi dan membimbingmu tidak kurang dari ayah. Ayo bawa dia kesini... biar ayah pertimbangkan dulu, seberapa baik agamanya, seberapa besar tanggung jawabnya, dan seberapa sabar dia menghadapi putri kecil ayah.

Nak ayah tahu siang itu akan datang, siang yang mengharuskan ayah untuk menyadari bahwa putri kecil ayah akan segera menggenapkan setengah agamanya, dengan bakti pada dia yang belum ayah kenali. Padahal dimata ayah, kamu masih gadis kecil yang beberapa waktu lalu merengek minta dibelikan benang untuk layangan, sebab teman-teman seusiamu yang rata-rata laki-laki sudah punya benang yang panjang untuk layangan mereka. Rasanya kamu masih gadis kecil ayah yang mengadu dengan mata berkaca-kaca bahwa benang layangannya telah kusut, yang terkantuk-kantuk menunggui ayah memperbaikinya agar bisa bermain lagi esok paginya. Yang dulu melempar sepatunya kelaut sebagai alasan meminta ayah mengizinkanmu bermain air. Yang dulu membongkar tas ayah, mencari receh untuk celengan ayammu diatas lemari.

Dan kemarin, ketika dengan izin ayah, kau pergi berkenalan dengan keluarga besarnya. Kembali ayah harus segera menyadari bahwa binar yang kau bawa pulang itu tidak biasa, binar yang belum pernah ayah lihat ketika dengan antusias kau bercerita. Sebenarnya nak, ayah cemburu. ayah mencemburui dia yang tiba-tiba datang tapi sudah mampu menghadirkan getar-getar rasa yang terlihat dirona wajahmu. Tapi percayalah nak, kecemburuan itu segera ayah tepis, ayah usir dengan keyakinan bahwa posisi ayah dan posisinya itu tidak disatu tempat. Bahwa warna cinta untuk ayah tidak sama dengan warna cinta untuknya. Ayah tidak salah, bukan?

Sedikit pesan ayah... setelah nanti kau ayah serahkan dengan disaksikan oleh para malaikat. Jadilah pendamping yang patuh nak, yang senantiasa bersyukur dan berterimakasih, yang menjaga diri dan hartanya, yang tidak mudah menuduh dan menyakiti hatinya, yang menyimpan rahasia dan menutupi aibnya. sebab tidak mudah untuk menjadi seorang suami, tidak mudah untuk menjadi orang yang bertanggung jawab penuh terhadap orang lain, yang harus menjaga dirinya dan ahlinya dari api neraka. Jadi sekali lagi nak... jangan bebani dia, tapi bantulah dia sesuai peran yang kau punya.

SUMBER
Read more ...

Keikhlasan yang Tulus dan Indah



GIMANTIR - Cuaca hari ini sangat sangat panas. Mbah Sarno terus mengayuh sepeda tuanya menyisir jalan perumahan Condong Catur demi menyambung hidup. Mbah Sarno sudah puluhan tahun berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling. Jika orang lain mungkin berfikir “Mau nonton apa saya malam ini?”, Mbah Sarno cuma bisa berfikir “saya bisa makan atau nggak malam ini?”

Di tengah cuaca panas seperti ini pun terasa sangat sulit baginya untuk mendapatkan pelanggan. Bagi Mbah Sarno, setiap hari adalah hari kerja. Dimana ada peluang untuk menghasilkan rupiah, disitu dia akan terus berusaha. Hebatnya, beliau adalah orang yang sangat jujur. Meskipun miskin, tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain.

Jam 11, saat tiba di depan sebuah rumah mewah di ujung gang, diapun akhirnya mendapat pelanggan pertamanya hari ini. Seorang pemuda usia 20 tahunan, terlihat sangat terburu-buru.

Ketika Mbah Sarno menampal sepatunya yang bolong, ia terus menerus melihat jam. Karena pekerjaan ini sudah digelutinya bertahun-tahun, dalam waktu singkat pun ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

“Wah cepat sekali. Berapa pak?”

“5000 rupiah mas”

Sang pemuda pun mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya. Mbah Sarno jelas kaget dan tentu ia tidak punya uang kembalian sama sekali apalagi sang pemuda ini adalah pelanggan pertamanya hari ini.

“Wah mas gak ada uang pas ya?”

“Nggak ada pak, uang saya tinggal selembar ini, belum dipecah pak”

“Maaf Mas, saya nggak punya uang kembalian”

“Waduh repot juga kalo gitu. Ya sudah saya cari dulu sebentar pak ke warung depan”

“Udah mas nggak usah repot-repot. Mas bawa dulu saja. Saya perhatikan mas lagi buru-buru. Lain waktu saja mas kalau kita ketemu lagi.”

“Oh syukurlah kalo gitu. Ya sudah makasih ya pak.”

Jam demi jam berlalu dan tampaknya ini hari yang tidak menguntungkan bagi Mbah Sarno. Dia cuma mendapatkan 1 pelanggan dan itupun belum membayar. Ia terus menanamkan dalam hatinya, “Ikhlas. Insya Allah akan dapat gantinya.”

Waktu menunjukkan pukul 3 lebih ia pun menyempatkan diri shalat Ashar di masjid depan lapangan bola sekolah. Selesai shalat ia berdoa.

“Ya Allah, izinkan aku mencicipi secuil rezekimu hari ini. Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendakMu.”

Selesai berdoa panjang, ia pun bangkit untuk melanjutkan pekerjaannya.

Saat ia akan menuju sepedanya, ia kaget karena pemuda yang tadi siang menjadi pelanggannya telah menunggu di samping sepedanya.

“Wah kebetulan kita ketemu disini, Pak. Ini bayaran yang tadi siang pak.”

Kali ini pemuda tadi tetap mengeluarkan uang seratus ribuan. Tidak hanya selembar, tapi 5 lembar.

“Loh loh mas? Ini mas belum mecahin uang ya? Maaf mas saya masih belum punya kembalian. Ini juga kok 5 lembar mas. Ini nggak salah ngambil mas?”

“Sudah pak, terima saja. Kembaliannya, sudah saya terima tadi, pak. Hari ini saya tes wawancara. Telat 5 menit saja saya sudah gagal pak. Untung bapak membiarkan saya pergi dulu. Insya Allah minggu depan saya berangkat ke Prancis pak. Saya mohon doanya pak”

“Tapi ini terlalu banyak mas”

“Saya bayar sol sepatu cuma Rp 5000 pak. Sisanya untuk membayar kesuksesan saya hari ini dan keikhlasan bapak hari ini.”

Tuhan punya cara tersendiri dalam menolong hamba-hambaNya yang mau berusaha dalam kesulitannya. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan pertolongan itu tiba.

Keikhlasan akan dibalas dengan keindahan,,
Kesuksesan akan menyertai keikhlasan dan rasa syukur.

Read more ...

Total Tayangan Halaman

Designed By VungTauZ.Com